Kencan Dengan Tuhan
Danang Kurniawan
0
Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. Selamat mendengarkan.
Епізоди
-
Edisi Hari Sabtu, 25 Juli 2026 - Bersyukur dalam segala hal 25.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Sabtu, 25 Juli 2026Bacaan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)Renungan: Keluarga Pak Budi baru aja kena musibah. Usaha kecilnya bangkrut saat menjelang Natal. Tabungan habis untuk membayar utang. Malam itu di meja makan suasananya hening. Anak sulungnya berkata, “Pa, kita masih bisa makan nasi sama telur. Berarti Tuhan masih pelihara kita ya.” Istri Pak Budi menyambung, “Iya. Listrik masih menyala. Rumah masih ada. Kita masih lengkap 4 orang di sini.” Mereka tidak pura-pura bahagia. Tapi malam itu mereka memutuskan untuk berdoa dan mengucap syukur dahulu, sebelum memikirkan jalan keluarnya. Tiga bulan kemudian, pelan-pelan ada pintu berkat baru terbuka. Paulus menulis ayat ini kepada jemaat yang sedang tertekan. Dia tidak berkata, "Bersyukur kalau segala hal baik". Tetapi "bersyukur dalam segala hal". Ada 2 pesa penting dari bacaan tersebut. Pertama, “Mengucap syukurlah dalam segala hal”. Dalam segala hal itu artinya baik suka maupun duka, sehat maupun sakit, berkecukupan maupun berkekurangan. Bersyukur bukan karena situasinya baik-baik saja, tetapi karena Tuhan kita tetap baik. Kedua, “Sebab itulah yang dikehendaki Allah”. Ini bukan saran, tetapi ini adalah kehendak Tuhan. Waktu kita bersyukur, kita sedang taat. Dan ketaatan akan membuka pintu berkat baru dan damai Tuhan. Bersyukur itu bukan menyangkal masalah. Bersyukur itu memilih fokus kepada Tuhan yang memegang masalah itu. Kita gampang bersyukur kalau gaji naik, anak lulus, badan sehat. Tapi bagaimana kalau dalam kerjaan bos tidak menyenangkan, target tidak tercapai, di-PHK? Yang terjadi adalah kita akan gampang mengeluh dan menyalahkan. Bagaimana jika dalam keluarga anak susah diatur, pasangan cuek, orang tua sakit? Rasanya capai dan tidak dihargai. Bagaimana juga di dalam iman? Doa udah lama tidak dijawab. Melihat orang lain diberkati, kita pun bertanya, "Tuhan, Engkau di mana?". 1 Tesalonika 5:18 mengajak kita memasang "kacamata bersyukur" tiap hari. Bukan bersyukur karena masalahnya, tapi bersyukur bahwa di tengah masalah Tuhan masih ada, Tuhan masih mengasihi, Tuhan masih bekerja. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau sering mengeluh dan lupa bersyukur. Hari ini aku mau taat pada firman-Mu. Aku mengucap syukur dalam segala hal, karena Engkau tetap baik. Ajarilah aku melihat kebaikan-Mu bahkan di tengah kesulitan dan isi hatiku dengan ucapan syukur. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Jumat, 24 Juli 2026 - Berserah dan Berdoa 23.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Jumat, 24 Juli 2026Bacaan: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.” (Yeremia 33:3)Renungan: Simone Biles adalah atlet senam terbaik di dunia. Di Olimpiade Tokyo tahun 2020, semua orang berharap dia akan meraih medali emas. Tetapi di tengah pertandingan tiba-tiba ia mengundurkan diri karena masalah kesehatan mental yang disebut "twisties" yaitu kondisi berbahaya di mana atlet kehilangan arah di udara. Kalau dipaksa bisa mengalami kelumpuhan. Dia memilih istirahat, ke konselor, dan berdoa. Tiga tahun kemudian dia kembali di Olimpiade Paris 2024 dan membawa pulang 3 medali emas. Dia mengatakan,“Kemenangan terbesar bukan medali, tetapi damai ketika aku berseru dan Tuhan memegang aku." Tuhan berbicara dalam bacaan di atas kepada nabi Yeremia ketika dia dalam penjara dan bangsanya akan mengalami kehancuran. Situasinya gelap total. Tetapi di saat seperti itu Tuhan menguatkannya melalui firman dan janjinya bahwa ketika ia berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawab dan memberikan jalan keluarnya. Yeremia 33:3 juga mengingatkan kita agar jangan mengambil keputusan apa-apa saat kondisi kita sedang panik. Berserulah dulu kepada Tuhan. Ceritakan semua masalah kita kepada-Nya. Dan tunggu, karena Tuhan suka menjawab dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Ketika kita merasa tidak ada jalan keluar atas masalah kita, Tuhan mengajak kita masuk ke ruang rahasia, yaitu doa, maka kita akan keluar sebagai pemenang. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku percaya Engkau memegang hidupku, bahkan waktu aku tidak kuat. Kini kupasrahkan diriku ke dalam tangan-Mu. Aku. Percaya, bersama Engkau semua akan baik-baik saja. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Kamis, 23 Juli 2026 - Jaga Hati dan Perkataan, Kendalikan Diri 22.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Kamis, 23 Juli 2026Bacaan: “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5)Renungan: Suatu hari di jam sebelas malam, Andrea baru saja membaca chat dari teman kantor di grup. Temannya menyindir dia di depan bosnya. Darahnya langsung naik. Jempolnya sudah mau mengetik balasan panjang, sebagai pelampiasan kemarahannya. Tapi kemudian dia ingat bahwa besok mereka akan ketemu lagi di kantor. Kalau dia membalas malam ini, pasti besok pagi akan menyesel. Akhirnya dia meletakkan HPnya kemudian ke kamar, tutup mata, dan berbicara dalam hati kepada Tuhan, “Tuhan, aku marah banget dan sakit sekali hati ini. Tapi aku tidak mau berdosa karena marah ini." Pagi harinya, kepalanya lebih tenang. Dia bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara yang benar. Malam itu dia belajar, marah boleh, tapi jangan sampai marah menguasai hati ini. Daud menulis mazmur ini waktu dikejar-kejar musuh dan difitnah. Dia juga marah, kecewa, sakit hati. Tetapi dia diberi 3 nasihat. Pertama, “Biarlah kamu marah” Marah itu manusiawi. Yesus juga pernah marah. Kedua, “Tetapi jangan berbuat dosa”. Bahayanya di sini. Marah bisa jadi memaki, balas dendam dan fitnah. Itulah yang membuat kita berdosa. Ketiga, “Berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam”. Artinya bawalah permasalahan kita kepada Tuhan dulu. Kita belajar mendiamkan mulut dan menenangkan hati sambil mengevaluasi di hadapan Tuhan sebelum bertindak. Intinya: Jangan mengambil keputusan saat kita sedang emosi. Mazmur 4:5 mengajar kita untuk "pause". Sebelum chat, sebelum berbicara, sebelum mengambil keputusan, diamlah dahulu kemudian bawalah kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku adalah manusia yang gampang marah dan gampang salah langkah. Ampunilah aku kalau selama ini aku cepat melampiaskan amarah sehingga menjadi berdosa. Ajarilah aku seperti Daud, saat marah, aku datang kepada-Mu dahulu, bukan ke orang lain. Tolonglah aku untuk diam, berpikir, dan bicara dengan-Mu sebelum aku bertindak. Yesus, tolong jaga hati dan mulutku hari ini. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Rabu, 22 Juli 2026 - Buang segala akar kepahitanm hadirkan damai 21.07.2026 4хвKencan Dengan Tuhan - Rabu, 22 Juli 2026Bacaan: “Segala kepahitan, kegeraman dan kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31)Renungan: Desmond Tutu adalah Uskup Afrika Selatan. Waktu rezim Apartheid berakhir, Afrika Selatan penuh luka. Kulit hitam benci kulit putih. Kulit putih takut dengan kulit hitam. Kalau membalas dendam maka negara itu akan hancur. Kemudian dibentuklah "Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi". Tugasnya: mendengar kesaksian korban, dan memberi kesempatan pelaku untuk mengaku. Banyak orang bertanya ke Uskup Tutu, “Mengapa harus mengampuni? Mereka pantas dihukum!” Dia menjawab: “Kalau kita terus menyimpan kepahitan, yang dipenjara bukan mereka. Tapi hati kita sendiri.” Dia memiilih "membuang" kebencian, supaya bangsa itu bisa sembuh. Dan hal itu pada akhirnya menyelamatkan Afrika Selatan dari perang saudara. Paulus menulis bacaan di atas kepada jemaat di Efesus. Dia berkata kalau mau hidup baru di dalam Kristus, ada enam sampah yang harus dibuang dari dalam hati yaitu kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan. Kata kuncinya, “hendaklah dibuang”. Ini adalah satu keputusan yang tidak bisa ditawar. Kenapa harus dibuang? Karena enam sampah ini dapat merusak hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Roh Kudus tidak bisa tinggal di hati yang penuh sampah. Dia hanya dapat tinggal di dalam hati yang penuh damai dan mau mengampuni. Mengampuni bukan berarti "yang dia lakukan benar". Mengampuni artinya: "Menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang bebas". Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku membawa semua kepahitan, kemarahan, dan fitnah dalam hatiku kepada-Mu. Hari ini aku mau membuang itu semua. Ampunilah aku karena sudah menyimpan luka itu terlalu lama. Kini isi hatiku dengan kasih-Mu. Berilah aku hati yang baru dan mudah mengampuni seperti Engkau selalu mengampuni aku. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Selasa, 21 Juli 2026 - Jangan Takut, Tuhan selalu menyertai 20.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Selasa, 21 Juli 2026Bacaan: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10) Renungan: Ada seorang pemuda bernama Riko berusia 27 tahun. Pagi-pagi dia scroll instagram melihat teman-teman seangkatannya. Ada yang sudah menjadi manager, menikah, punya anak dan punya rumah. Siang harinya dia mendapat email, lamaran kerjanya ditolak lagi. Ini adalah penolakan yang ke-8 selama satu bulan ini. Malam harinya orang tuanya bertanya: “Kapan kerja? Kapan nikah?” Kemudian dia masuk kamar dan duduk di tempat tidurnya. Kepalanya penuh dan dia menjerit pelan, “Aku gagal. Aku ketinggalan. Aku sendirian.” Diapun takut akan masa depannya dan mulai bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya. Ia merasa capek namun pura-pura kuat di depan orangnya. Saat hendak tidur tiba-tiba hatinya tergerak untuk membaca Alkitab. Pada saat ia membuka Alkitab, tanpa disengaja ia membaca Yesaya 41:10. Setelah membacanya ia menjadi tenang dan malam itu ia bisa tidur dengan nyenyak. Pada saat bangsa Israel hidup dalam pembuangan, mereka merasa takut, bimbang dan merasa dibuang oleh Tuhan. Tetapi melalui bacaan di atas Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka. Ada 4 janji yang Tuhan nyatakan yaitu, pertama, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau”. Dalam hal ini Tuhan mau mengatakan bahwa apapun masalah yang dialami bangsa Israel saat itu, Allah tidak pernah meninggalkan mereka. Allah selalu menyertai mereka. Kedua, “Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu”. Kalimat ini mau menunjukkan kepada bangsa Israel bahwa Allah dekat pada bangsa Israel. Ketiga, “Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau”. Saat mereka lemah, Allah menguatkan. Saat mereka tidak punya harapan, Aku menolong mereka. Keempat, “Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku”. Tuhan mau mengingatkan bahwa tangan kanan-Nya penuh kuasa dan kemenangan. Tuhan tidak pernah berkata, "Hidupmu aman dan tidak ada masalah", tapi Dia berjanji, "Di tengah masalahmu, Aku menyertai, meneguhkan dan memegang engkau." Ketakutan kita dijawab dengan kehadiran Tuhan. Kebimbangan kita dijawab dengan janji Tuhan. Jadi ketika besok bangun pagi dan kecemasan muncul lagi, ingatlah bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian. Ada tangan kanan Tuhan yang sedang memegang dan menuntun kita selangkah demi selangkah menuju kemenangan-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, hari ini aku mengakui bahwa aku takut dan bimbang akan masa depanku. Tapi hari ini juga firman-Mu berkata, "Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau." Tolong pegang tanganku, Tuhan. Teguhkan hatiku yang lemah. Aku percaya Engkau Allahku dan Engkau tidak pernah meninggalkan aku. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Senin, 20 Juli 2026 - Saling mengasihi dan menghargai dengan sesama 19.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Senin, 20 Juli 2026Bacaan: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12:10)Renungan: Mother Teresa ketika tinggal di Kalkuta, dia sering berjalan kaki mengelilingi gang kumuh. Dia memungut orang yang sekarat di pinggir jalan, membersihkan lukanya dan memberinya makan. Suatu hari ada seorang wartawan yang bertanya: “Kenapa Ibu melakukan semua ini?”Jawabnya sederhana, “Karena setiap orang itu adalah Yesus yang menyamar. Dan saya mau mendahului menghormati Dia.” Ia tidak menunggu orang lain lebih dulu sopan. Ia tidak menunggu orang miskin itu "layak" dihormati. Dia yang lebih dulu memberi hormat dengan mencuci kaki, memeluk dan memanggil mereka dengan namanya. Dari kasih kecil yang mendahului itu, ribuan orang di seluruh dunia tersentuh dan ikut melayani. Paulus memberi dua kunci untuk hidup bersaudara. Pertama saling mengasihi sebagai saudara. Bukan kasih karena cocok, tapi karena kita satu keluarga di dalam Kristus. Kedua saling mendahului dalam memberi hormat. Kata “mendahului” artinya berlomba. Siapa yang lebih dulu menghargai dan memuliakan orang lain. Intinya: Jangan tunggu dihormati dulu baru menghormati. Jangan tunggu disapa dulu baru menyapa. Di kerajaan Allah, yang "menang" adalah yang paling dulu mengasihi. Sebagai pengikut Yesus, mungkin ayat ini menampar kita di tiga area yaitu pertama di Gereja / Komunitas. Kita sering pilih-pilih teman. Dekat sama yang sekelompok, seumuran, sepelayanan. Sedangkan yang beda pendapat, kita cuek. Padahal kita dipanggil saling mengasihi sebagai saudara. Kedua di Rumah & Kantor. Kita mau dihargai. Mau didengar. Mau diapresiasi. Tetapi kita menunggu orang lain mulai duluan. Akibatnya semua diam dan saling menunggu. Di Media Sosial. Gampang komen pedas, gampang menjatuhkan. Padahal kita dipanggil mendahului memberi hormat, bukan mendahului menghakimi. Roma 12:10 ini mengajak kita jadi pembuka jalan. Mendahului minta maaf. Mendahului memuji. Mendahului melayani tanpa pamrih. Mendahului menghargai orang yang tidak populer dan sebagainya. Karena saat kita mendahului mengasihi, kita sedang memperlihatkan seperti apa keluarga Allah itu. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering menunggu orang lain mengasihi aku dulu. Ajarilah aku mengasihi sebagai saudara, bahkan kepada yang sulit kukasihi. Berikanlah aku hati yang mau mendahului dalam memberi hormat. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Minggu, 19 Juli 2026 - Berinisiatif... lakukan lebih dahulu 18.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Minggu, 19 Juli 2026Bacaan: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Lukas 6:31)Renungan: Fred Rogers adalah seorang pembawa acara TV anak-anak di Amerika selama 33 tahun. Acaranya sederhana: dia duduk, ganti sepatu, nyanyi, ngobrol dengan anak-anak. Suatu hari dia diundang ke Senat AS untuk meminta dana bagi TV publik anak-anak. Semua orang pikir dia akan kalah, karena waktu bicaranya cuma 6 menit. Tapi dia tidak bicara data. Dia cerita tentang anak yang merasa tidak dicintai, lalu berkata: “Saya ingin anak-anak tahu bahwa mereka dicintai apa adanya.” Anggota Senat yang awalnya mau potong dana, langsung menyetujui 20 juta dolar. Kenapa? Karena Rogers memperlakukan mereka seperti dia ingin diperlakukan, dengan hormat, tulus, dan tidak menghakimi. Lukas 6:31 ini merupakan "Aturan Emas" yang dikatakan Yesus di atas bukit. Kalimatnya pendek, tapi sungguh bermakna, “Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Yesus tidak berkata, "Perlakukan orang seperti mereka memperlakukan kamu". Dia berkata, "Perlakukan seperti kamu ingin diperlakukan". Ini kasih yang aktif. Namun aturan ini paling susah dipraktikkan di tiga tempat yaitu pertama, di Media Sosial. Kita mau dihargai pendapatnya, tapi kita gampang menghakimi dan nyinyir di kolom komentar. Kita mau dimengerti, tapi kita cepat menyimpulkan orang. Kedua, di Keluarga dan Kantor. Kita mau disupport saat capek, tapi kita pelit memuji orang lain. Kita mau dimaafkan saat salah, tapi kita susah mengampuni. Ketiga, ke orang yang menyakiti kita. Kita mau diberi kesempatan kedua, tapi kita menutup pintu untuk orang yang pernah melukai kita. Yesus menantang kita hari ini: Jangan jadi cermin yang hanya memantulkan perlakuan orang. Jadilah lampu yang menyalakan kebaikan duluan. Mungkin hari ini ada orang yang perlu kita perlakukan seperti kita ingin diperlakukan yaitu kita meminta maaf duluan, membelikan kopi rekan kerja, diam dan mendengarkan pasangan kita dan senyum ke tukang ojek dll. Karena saat kita menabur perlakuan yang kita mau terima, kita sedang mencerminkan kehadiran Yesus. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering menuntut orang lain berubah dulu, baru aku berubah. Hari ini ajarilah aku hidup dengan Aturan Emas-Mu untuk memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana aku mau diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Sabtu, 18 Juli 2026 - Datang padaNya dalam kelemahan, mohon kekuatan 17.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Sabtu, 18 Juli 2026Bacaan: “Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." (Markus 5:28)Renungan: Bethany Hamilton adalah seorang atlet selancar profesional. Pada usia 13 tahun, lengannya digigit hiu saat latihan di Hawaii. Dia hampir mati kehabisan darah. Dokter mengatakan karir selancarnya selesai. Banyak orang merasa kasihan dan berkata, "Sudahlah, berhenti saja." Tapi empat minggu kemudian dia sudah kembali ke papan selancarnya dengan 1 tangan. Waktu ditanya apa yang menguatkan dia, dia menjawab, "Saya tidak berdoa minta lengan saya kembali. Saya berdoa minta Tuhan pakai hidup saya. Asal saya bisa dekat dengan Dia, itu cukup." Pada akhirnya dia pun meraih juara dunia, punya keluarga, dan jadi kesaksian bahwa Tuhan sanggup memakai kekurangan menjadi kekuatan. Dia "menjamah jubah Yesus" di tengah luka, dan Tuhan beri dia kekuatan baru. Bacaan di atas mengisahkan tentang seorang perempuan yang sudah 12 tahun sakit pendarahan. Bayangkan: 12 tahun sakit, uang habis untuk biaya pengobatan, tetapi tidak sembuh, malah semakin parah. Secara agama dia najis. Tidak boleh memegang orang, hidupnya sendirian, malu dan putus asa. Tapi ketika dia mendengar tentang Yesus, muncullah iman di hatinya dengan berkata, "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Ketika ia berhasil menjamah jubah Yesus, saat itu juga pendarahannya berhenti. Yesus berkata, "Imanmu telah menyelamatkan engkau." Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuhnya, tapi juga memulihkan identitasnya. Sebagai pengikut Yesus, saat kita punya masalah kita sering meminta pertolongan ke dukun, orang pintar, curhat di medsos, curhat ke semua orang, cari motivasi. Tapi lupa datang dan menjamah Yesus. Yesus hari ini masih berjalan di tengah keramaian hidup kita. Dia tidak sibuk. Dia berhenti untuk satu orang yang beriman. Pertanyaannya: Maukah kita punya iman seperti perempuan itu? "Tuhan, aku tidak tahu jalan keluarnya. Tapi asal aku bisa dekat dengan-Mu, aku percaya Engkau sanggup menolong aku." Jangan tunggu kuat dulu baru datang kepada Tuhan. Datanglah dalam kelemahan. Karena di sanalah kuasa-Nya menjadi sempurna. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku datang seperti perempuan itu hari ini. Dengan iman kecil, dengan hati lelah, asal aku jamah Engkau saja, aku percaya ada kesembuhan. Jamah lukaku. Jamah kekuatiranku. Jamah hidupku. Aku tidak mau lari ke tempat lain lagi. Aku mau dekat dengan-Mu. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Jumat, 17 Juli 2026 - Percaya dan Berseru kepadaNya, Dia Pulihkan Hidupmu 16.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Jumat, 17 Juli 2026Bacaan: Lalu kata Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" (Markus 10:51)Renungan: Helen Keller kehilangan penglihatan dan pendengaran sejak umur 19 bulan karena sakit. Dunianya gelap dan sunyi. Dia sering marah, memukul, dan merasa terkurung. Sampai datang seorang guru bernama Anne Sullivan. Hari yang mengubah hidup Helen adalah saat gurunya menaruh tangan Helen di bawah air mengalir sambil mengeja kata "w-a-t-e-r" di telapak tangannya. Saat itu Helen sadar bahwa segala sesuatu punya nama. Dia sadar ada dunia di luar kegelapannya. Helen kemudian berkata: “Saya lebih suka menjadi buta dan melihat dunia dengan hati, daripada punya dua mata tapi buta terhadap tujuan hidup.” Dari seorang yang "buta", Tuhan pakai dia jadi penulis, pembicara, dan menginspirasi jutaan orang. Bartimeus adalah seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan Yerikho. Waktu ia mendengar Yesus lewat, dia berteriak minta tolong. Orang-orang menyuruhnya diam, tapi dia makin keras berteriak: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Yesus pun berhenti dan bertanya, "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Perhatikanlah dua hal: Pertama Yesus berhenti. Dia peduli pada satu orang yang berseru. Kedua, Yesus bertanya. Dia tahu apa yang diharapkan Bartimeus tetapi Dia mau Bartimeus jujur dan spesifik minta kepada-Nya. Bartimeus menjawab dengan jelas, "Supaya aku dapat melihat!" Dia tidak minta uang. Dia minta sumber dari segala berkat yaitu penglihatan. Dan seketika itu juga Bartimeus melihat, lalu mengikut Yesus. Kita juga sering "buta" seperti Bartimeus. Buta arah. Bingung tentang masa depan, kerja dan jodoh. Kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Buta iman. Kita sudah lama berdoa tetapi belum dijawab. Akhirnya kita jadi tawar hati dan berhenti berharap. Buta akan kasih Tuhan. Kita mengalami luka hati dan kecewa menutupi mata kita, sehingga tidak bisa melihat Tuhan yang sedang bekerja memulihkan kita. Yesus hari ini masih bertanya hal yang sama kepada kita, "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Dia tidak mau jawaban umum seperti "berkati aku Tuhan". Dia mau kita jujur, "Tuhan, pulihkan hubunganku dengan anakku", "Tuhan, berikan aku pekerjaan", "Tuhan, sembuhkan lukaku", "Tuhan, supaya aku dapat melihat rencana-Mu". Kita diharapkan jangan diam karena takut atau malu. Berserulah karena Yesus yang sama yang menyembuhkan Bartimeus, juga mau menyembuhkan kita hari ini. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, seperti Bartimeus aku berseru kepada-Mu hari ini, "Rabuni, supaya aku dapat melihat". Perlihatkan aku jalan-Mu, perlihatkan aku kasih-Mu, dan perlihatkan aku mujizat-Mu. Ampunilah aku yang sering menyerah dan diam karena tawar hati. Aku percaya Engkau mendengar dan sanggup memulihkan hidupku. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Kamis, 16 Juli 2026 - Bertolak ke tempat yang dalam 15.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Kamis, 16 Juli 2026Bacaan: "Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4)Renungan: Waktu kecil Thomas Alfa Edison pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap "terlalu bodoh". Gurunya berkata dia tidak bisa belajar. Waktu meneliti bola lampu, dia gagal ribuan kali. Wartawan bertanya: "Pak, bagaimana rasanya gagal ribuan kali?" Edison jawab: "Saya tidak gagal ribuan kali. Saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil." Dia "bertolak ke tempat yang dalam" - terus mencoba walau semua orang berkata mustahil. Dari kegagalan itu lahirlah lampu pijar yang sampai hari ini menerangi dunia. Yang orang lihat gelap, tapi dia taat "menebar jala" terus, sampai akhirnya terang itu datang. Waktu itu Petrus sudah semalaman mencari ikan hasilnya mengecewakan. Ia capai, malu dan mau menyerah. Tetapi Yesus datang dan berkata, "Bertolaklah ke tempat yang dalam". Bertolak artinya bergerak. Jangan diam dalam kekecewaan. Tetap taat walau tidak masuk akal. Ke tempat yang dalam artinya menuju ke tempat yang berisiko, yang mungkin mustahil menurut manusia. Di sanalah mujizat akan terjadi. Tebarkanlah jalamu, artinya lakukan bagian kita dengan usaha dan iman, maka Tuhan akan melakukan bagian-Nya juga. Yesus tidak menyuruh Petrus kerja lebih keras. Dia menyuruh Petrus taat di tempat yang benar bersama Dia. Kita sering seperti Petrus yang "semalaman tidak mendapat apa-apa." Dalam pelayanan kita sudah mewartakan Injil dan mendoakan orang, tapi tidak ada yang berubah. Akhirnya godaan datang yaitu perkataan, "Sudahlah, capek." Di dalam keluarga kita sudah menasihati anak, sudah berdoa untuk pasangan, tapi ternyata situasinya sama tidak berubah. Maka godaan adalah perkataan, "Percuma." Di dalam kehidupan ini kita sudah mengirim lamaran, sudah berusaha, tapi pintu berkat tetap tertutup. Akhirnya kecewa dan godaannya adalah kata-kata pasrah karena kecewa, "Mungkin bukan jalanku." Yesus hari ini berkata kepada kita juga, "Bertolaklah ke tempat yang dalam." Mungkin "tempat yang dalam" itu adalah: tetap mengasihi musuh, tetap jujur walau rugi, tetap memuji walau hati sakit, tetap percaya walau doa belum dijawab. Di tempat dangkal kita hanya dapat ikan kecil. Tapi di kedalaman bersama Yesus, ada berkat yang bisa "mengoyakkan jala". Jangan berhenti sebelum Yesus berkata berhenti. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku sering menyerah terlalu cepat. Hari ini aku mendengar suara-Mu, "Bertolaklah ke tempat yang dalam." Berikan aku keberanian untuk taat, bahkan saat tidak mengerti. Tolonglah aku agar mau menebar jala lagi bersama-Mu. Aku percaya Engkau sanggup mengubah kegagalanku menjadi kesuksesan. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Rabu, 15 Juli 2026 - Tak menunggu sempurna untuk melayani Tuhan 14.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Rabu, 15 Juli 2026Bacaan: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28) Renungan: Nick Vujicic lahir tanpa tangan dan tanpa kaki. Waktu kecil dia sering dibully di sekolah. Dia sempat bertanya, "Tuhan, mengapa Engkau membuat aku seperti ini? Hidupku untuk apa? Pada umur 10 tahun dia mau bunuh diri. Tapi dia sadar dan mulai berpikir, "Kalau Tuhan bisa pakai segala sesuatu, berarti Dia juga bisa pakai tubuhku yang seperti ini." Nick kemudian belajar berenang, main bola, mengetik dengan jari kaki. Pelan-pelan dia mulai bicara di depan orang. Awalnya cuma 10 orang. Lalu 100, lalu ribuan orang. Sekarang Nick sudah keliling kepuluhan negara, menginspirasi jutaan orang. Dia berkata, "Saya tidak punya tangan untuk memeluk orang, tapi saya punya mulut untuk memberitahu mereka bahwa Tuhan mengasihi mereka." Yang tadinya dia menganggap dirinya sebagai kutukan, Tuhan ubah menjadi alat untuk mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu" artinya tidak ada kejadian yang kebetulan. Yang manis dan yang pahit, yang gagal dan yang berhasil, semua ada dalam tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan. Tuhan tidak mengatakan semua hal itu baik. Tapi Dia berjanji bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Tuhan itu seperti seorang pelukis. Kita melihat coretan dari dekat. Tapi Tuhan sedang melukis gambar besar yang indah dari surga. Kita tidak perlu menunggu hidup menjadi "sempurna" dulu baru dipakai Tuhan. Mulai hari ini, bawalah semua kekurangan kita kepada Tuhan dan katakan pada-Nya, "Tuhan Engkau mau apa untuk hidupku ini? Aku siap untuk melakukan kehendak-Mu." Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering bertanya "kenapa aku" saat ada masalah. Hari ini aku percaya bahwa Engkau turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagiku. Pakailah hidupku, kekuranganku, bahkan lukaku, untuk menjadi berkat bagi orang lain. Aku mau mengasihi-Mu dan percaya pada indahnya rencana-Mu. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Selasa, 14 Juli 2026 - Menjadi Anak yang Taat 13.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Selasa, 14 Juli 2026Bacaan: "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian." (Efesus 6:1)Renungan: Dimas adalah murid kelas 4 SD. Suatu hari gurunya memberi tugas membuat video tentang "Tokoh Panutanku". Teman-temannya memih pemain bola, youtuber, artis dll. Ketika tiba giliran Dimas presentasi, dia maju sambil membawa foto. "Itu siapa?" tanya temannya. "Itu Bapakku," jawab Dimas. "Setiap pagi Bapak bangun jam 5 buat antar aku sekolah. Kalau aku sakit, Bapak begadang menjaga aku. Kalau aku nakal, Bapak tetap doain aku." Teman-temannya terdiam. Ada yang ketawa kecil. Tapi Bu Guru bilang, "Itu pahlawan yang paling hebat, Dim." Malamnya Dimas cerita ke Bapaknya. Bapaknya memeluk Dimas sambil berkata, "Nak, Bapak juga belajar jadi orang tua yang baik dari Tuhan." Sejak itu Dimas menjadi anak yang lebih taat. Kalau disuruh belajar, dia tidak menjawab "nanti". Kalau disuruh membantu mencuci piring, dia langsung melakukannya. Taatilah orang tuamu di dalam Tuhan artinya mendengar dan melakukan apa yang orang tua minta, selama itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Mengapa? Karena "haruslah demikian". Tuhan memberikan orang tua sebagai wakil-Nya di dalam keluarga. Melalui mereka Tuhan memberi kita makan, sekolah, nasihat, dan doa. Taat bukan karena takut dimarahi tapi karena kita mengasihi Tuhan. Anak zaman sekarang terlalu pandai. Mereka bisa buka HP sendiri dan bisa mencari jawaban di Google. Tapi kadang karena "merasa lebih tahu", mereka jadi sering meremehkan orang tua. Mereka susah mendengarkan nasihat orang tua. Kalau orang tua bicara, mereka menjawab "Tau... Tau..." tapi sambil main HP. Mereka juga suka membantah. Disuruh belajar jawabnya, "Ah ntar", disuruh beresin kamar jawabnya, "Ribet". Mereka juga kurang menghargai orang tua. Lupa mengucapkan terima kasih untuk makanan, baju, uang sekolah dll. Taat itu bukan berarti jadi anak penakut. Taat itu berarti jadi anak yang pintar, karena tahu siapa yang Tuhan pakai untuk menjaganya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk Papa dan Mama yang Engkau berikan kepadaku. Ampuni aku kalau sering membantah dan membuat mereka sedih. Ajarilah aku menjadi anak yang taat, seperti Yesus yang juga taat kepada Maria dan Yusuf. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Senin, 13 Juli 2026 - Merangkul dan menyambut sesama yang terabaikan 12.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Senin, 13 Juli 2026Bacaan: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." (Mazmur 27:10)Renungan: Pada tahun 1967, seorang laki-laki bernama Joni Eareckson umur 17 tahun meloncat ke danau untuk menyelam. Namun karena salah perhitungan, dia cedera tulang belakang. Sejak hari itu dia lumpuh dari leher ke bawah. Dunia Joni runtuh. Orang tuanya sedih, teman-temannya menjauh. Dia marah sama Tuhan. "Kenapa aku? Kenapa Tuhan izinkan ini?" Di tempat tidur rumah sakit, dia merasa benar-benar ditinggalkan. Fisiknya lemah, masa depannya gelap, dan dia merasa tidak ada yang mengerti. Tapi di titik paling hancur itu, Joni mulai membuka Alkitab. Mazmur 27:10 jadi pegangannya: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." Tuhan tidak menyembuhkan tubuhnya. Tapi Tuhan menyambut dia. Dari kursi roda, Joni menjadi pelukis dengan kuas di mulut, penulis 40 buku, dan pendiri yayasan yang menolong ribuan penyandang disabilitas di seluruh dunia. Dia berkata, "Tuhan tidak selalu mengeluarkan kita dari air, tapi Dia selalu masuk ke dalam air bersama kita." Daud menulis mazmur di atas ini saat dia dikejar-kejar, difitnah, bahkan mungkin ditinggal orang terdekatnya. "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku", ini merupakan kalimat yang paling menyakitkan. Keluarga seharusnya jadi tempat paling aman. Tapi Daud berkata, bahkan tempat paling aman itu mengecewakan. Kalimat selanjutnya, "...namun TUHAN menyambut aku", itu merupakan kalimat yang meneguhkan dan menguatkan karena itu berarti Tuhan mengumpulkan, merangkul dan membawanya pulang. Mazmur ini mengajarkan kita bahwa pengharapan tidak boleh hanya ditaruh di tangan manusia tetapi di tangan Tuhan. Manusia bisa gagal, bisa pergi, bisa melukai. Tapi Tuhan tidak pernah. Dia selalu jadi rumah yang tidak pernah menolak kita pulang. Sebagai pengikut Yesus kita pasti pernah merasa "ditinggalkan", antara lain ditinggalkan orang. Teman yang unfollow karena kita beda pilihan. Keluarga yang tidak mendukung panggilan kita. Rekan kerja yang menikam dari belakang. Rasanya sakit. Tapi ingat, Tuhan menyambut kita. Dia tidak pernah meng-unfollow kita. Kita juga mungkin pernah ditinggalkan harapan. Doa belum dijawab, pintu kerja tertutup dan rencana gagal. Rasanya Tuhan diam, tetapi ternyata dia tetap "menyambut" artinya Dia tetap dekat. Dia peluk kita di tengah penantian kita. Kita juga mungkin pernah ditinggalkan diri sendiri. Kita kecewa pada diri sendiri sehingga kita berkata, "Aku gagal lagi". Tapi Tuhan berkata, "Aku tidak meninggalkan kamu. Aku mengumpulkan kepingan harapanmu satu persatu." Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil juga untuk menjadi "tangan Tuhan yang menyambut". Ketika melihat rekan kerja yang dikucilkan, murid yang diabaikan, keluarga yang kesepian, jadilah rumah bagi mereka, karena kita sudah lebih dahulu disambut Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan aku. Ampunilah aku kalau aku sering mencari penerimaan di tempat yang salah. Hari ini aku mau pulang dan berlindung dalam pelukan-Mu. Pakailah aku juga untuk menyambut orang-orang di sekitarku yang merasa ditinggalkan. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Minggu, 12 Juli 2026 - Tetap tenang dan percaya padaNya 11.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Minggu, 12 Juli 2026Bacaan: "Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenang! Aku ini, jangan takut!" (Matius 14:27)Renungan: Pada tahun 1993, Nelson Mandela baru 3 tahun keluar dari penjara setelah 27 tahun dipenjara di Afrika Selatan. Negaranya sedang di ujung tanduk. Kulit putih takut kehilangan kuasa. Kulit hitam marah dan mau membalas dendam. Perang saudara hampir meledak setiap hari. Semua penasihatnya berkata, "Pakai kekuatan dan balas. Amankan posisi dulu." Tapi Mandela masuk ke ruangannya, berdoa, lalu mengambil keputusan yang membuat dunia kaget. Dia undang mantan sipir penjaranya makan siang di istana. Dia membentuk "Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi". Dia memilih mengampuni daripada membalas. Ketika ia ditanya mengapa berani ambil risiko sebesar itu, dia menjawab, "Saya sudah 27 tahun hidup dalam ketakutan dan kebencian. Saat saya keluar dari penjara, saya sadar kalau saya tidak melepaskan itu, maka saya masih di dalam penjara." Mandela memilih tenang di tengah badai, karena dia percaya ada panggilan yang lebih besar daripada rasa takutnya. Bacaan Injil di atas terjadi saat murid-murid ada di tengah danau Galilea. Angin kencang, ombak besar dan perahu hampir tenggelam. Mereka melihat "sesuatu" jalan di atas air dan berteriak ketakutan, mengira itu adalah hantu. Di titik paling panik itu, Yesus datang. Kalimat pertama-Nya bukan, "Aku akan meredakan badai", tetapi kalimat pertama-Nya adalah, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Yesus dalam hal ini mau mengingatkan bahwa sebelum Ia membereskan masalah kita, ketahuilah dulu siapa yang ada bersama kita. Badai boleh tetap ada. Tapi kalau "Aku ini" ada di perahu, maka kita tidak akan tenggelam. "Danau" kita saat ini mungkin berbeda, tetapi ombaknya sama kencang, yaitu pertama badai Ketidakpastian, contohnya dalam hal kerja, ekonomi, masa depan dll. Kita seperti para murid melihat gelombang, bukan melihat Yesus. Yesus berkata, 'Tenanglah! Aku pegang kendali hidupmu." Kedua badai hubungan. Ada luka, kecewa, pengkhianatan dll. Godaannya adalah kita mau membalas atau menghindar. Mandela mengajar kita memilih tenang dan memilih pengampunan, karena ada Yesus bersama kita. Ketiga badai batin. Ada kecemasan, kegagalan dan merasa tidak cukup. Kita berteriak dalam hati. Yesus datang dan berkata hal yang sama, "Tenanglah! Aku ini. Kamu tidak sendirian. Kita sering meminta Tuhan membereskan badainya dulu baru kita tenang. Tapi Tuhan minta kita percaya dulu bahwa Dia ada, barulah kita bisa tenang di tengah badai. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering lebih fokus pada badai daripada kehadiran-Mu. Hari ini aku mau mendengar suara-Mu: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Mampukan aku seperti Mandela, untuk tidak dikuasai takut dan benci. Peganglah tanganku di tengah gelombang hidupku. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Sabtu, 11 Juli 2026 - Nyatakan Kasih dengan Pengampunan 10.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Sabtu, 11 Juli 2026Bacaan: "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni." (Lukas 6:37)Renungan: Pada tahun 1947, Corrie ten Boom baru bebas dari kamp konsentrasi Nazi. Keluarganya dibunuh karena menyembunyikan orang Yahudi. Suatu hari setelah perang, ada seorang pria datang ke KKR yang dia pimpin. Pria itu dulu adalah penjaga kamp tempat adik Corrie meninggal. Dia ulurkan tangan dan berkata: "Bisakah anda mengampuni saya?" Sekujur tubuh Corrie kaku. Ingatan tentang adiknya, tentang kamar gas, semua kembali. Dalam hati dia berteriak: "Tuhan, aku tidak bisa!" Lalu dia berdoa singkat: "Yesus, tolong aku." Dan dengan kekuatan dari Tuhan, dia menjabat tangan pria itu. Air matanya jatuh. Beberapa tahun kemudian Corrie menulis: "Pengampunan adalah tindakan kehendak, bukan perasaan. Begitu kita mau mengampuni, Tuhan yang memberi rasa damainya." Ada tiga perintah yang saling terkait dalam bacaan Injil di atas. Pertama, "Janganlah kamu menghakimi" Berhentilah menjadi hakim atas hidup orang lain. Kita tidak tahu semua cerita di balik kesalahan orang tersebut. Kedua, "Janganlah kamu menghukum". Berhentilah membalas. Jangan memenjarakan orang dengan perkataan dan sikap dingin kita. Ketiga, "Ampunilah dan kamu akan diampuni". Inilah kuncinya. Ukuran pengampunan kita ke orang sama dengan ukuran pengampunan Tuhan ke kita. Yesus tidak berkata "lupakan kejahatan". Dia berkata "ampunilah". Orang yang terus menghakimi dan tidak mengampuni, dia yang paling tersiksa duluan. Corrie bisa menjabat tangan musuhnya bukan karena dia kuat. Tapi karena dia memilih taat dulu pada Tuhan, baru kemudian Tuhan memberinya kekuatan. Hari ini Yesus bertanya ke kita: "Ada nama siapa yang masih kau tahan di hatimu untuk diampuni?" Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku karena sering cepat menghakimi dan lambat mengampuni. Hari ini aku mau taat pada firman-Mu. Aku memilih mengampuni (sebutkan nama orang).... Isilah hatiku dengan kasih-Mu supaya aku bisa membebaskan orang lain, dan aku pun dibebaskan. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Jumat, 10 Juli 2026 - Menjadi Berkat bagi sesama yang membutuhkan 09.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Jumat, 10 Juli 2026Bacaan: "Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." (Matius 14:16)Renungan: Suatu kali di sebuah komplek perumahan terjadi kebanjiran. Air masuk ke rumah warga. Semua panik. Ada ibu-ibu bawa anak kecil, ada kakek yang tidak bisa jalan. Di grup RT langsung ramai. Ada yang bilang: "Lapor kelurahan aja", "Tunggu bantuan datang", "Kita kan tidak punya perahu". Semuanya punya alasan kenapa "tidak bisa" bergerak sekarang. Tiba-tiba Pak RT ambil ember, galon kosong, dan teriak: "Yang bisa berenang, ikut saya! Kita evakuasi dulu yang anak kecil dan lansia. Soal makan nanti kita pikir bareng." Warga yang tadinya diam jadi ikut. Ada yang masak mie di pos ronda, ada yang buka dapur, ada yang kumpulin pakaian layak pakai. Sore itu semua warga selamat dan dapat makan. Bantuan dari kelurahan baru datang malam. Pak RT bilang, "Kalau kita menunggu bantuan dulu, orang bisa keburu lapar dan kedinginan. Kasih dulu apa yang kita punya." Peristiwa dalam Injil Matius 14:16 terjadi saat 5000 orang kelaparan di tempat yang sepi. Para murid melihat masalahnya besar dan mereka memberikan jalan keluar dengan berkata, "Suruh mereka pergi, supaya mereka dapat mencari makan sendiri." Pola pikir mereka adalah, "Masalah terlalu besar. Bukan kapasitas saya. Biar orang lain." Tetapi Yesus mengingatkan mereka dengan berkata, "Tidak perlu mereka pergi, kamu yang harus memberi mereka makan." Yesus tidak minta mereka mencetak uang atau buka supermarket. Dia minta mereka menyerahkan apa yang ada pada mereka, dalam hal ini 5 roti 2 ikan. Hasilnya? Semua kenyang, bahkan sisa 12 bakul. Sebagai pengikut Yesus terkadang saat ada orang yang membutuhkan pertolongan kita berkata, "Tidak bisa. Tidak cukup. Bukan urusan saya. Sudah ada pemerintah biar mereka yang menangani." Hari ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hal kecil yang kita lakukan dengan ketulusan hati, maka akan menjadi berkat yang luar biasa. Mari kita belajar untuk percaya bahwa Tuhan kita Yesus Kristus lebih besar dari masalah yang ada di sekitar kita. Kalau kita percaya penuh pada-Nya maka akan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang ada di sekitar kita atau yang kita alami. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau selama ini aku cepat berkata "tidak bisa" dan menyuruh orang lain pergi. Buka mataku untuk melihat kebutuhan di sekitarku dan ajarilah aku agar mau memberi dulu apa yang ada di tanganku: waktu, harta, tenaga, dan kasih. Pakailah aku untuk jadi jawaban doa bagi sesama. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Kamis, 9 Juli 2026 - Berpikir dan berkata-kata positif 08.07.2026 6хвKencan Dengan Tuhan - Kamis, 9 Juli 2026Bacaan: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21)Renungan: Suatu hari seorang istri mengeluh karena minggu ini ia terlalu lelah. Kerjaan menumpuk, anak rewel minta ditemenin belajar. Suaminya pulang kerja terus rebahan main HP. Tanpa sadar ia kesal dan berkata kepada suaminya: "Kamu sih tahunya cuma enak-enak rebahan. Gak pernah mikirin rumah ini!" Suaminya pun diam. Malam itu suasana rumah menjadi dingin. Dua hari kemudian giliran ia yang sakit. Anak-anak yang biasanya deket dengannya menjadi takut karena melihat papa mamanya tegang. Ia pun tersadar. Satu kalimat emosinya malam itu "mematikan" suasana rumah selama dua hari. Padahal kalau ia bilang: "Pa, aku capek. Boleh tolong temenin anak belajar 30 menit?" pasti jawabannya berbeda. Amsal 18:21 ini berisi peringatan keras dari Raja Salomo tentang kuasa dari kata-kata: "Hidup dan mati dikuasai lidah". Di rumah, lidah kita bisa jadi sumber kehidupan atau sumber kematian. Dengan kata-kata kita bisa menghidupkan semangat pasangan, menguatkan anak yang gagal, memberkati keluarga. Tapi dengan kata-kata juga kita bisa melukai hati pasangan, mematikan semangat anak, dan merusak keharmonisan rumah. Rumah tangga kita adalah cermin dari apa yang sering kita ucapkan. Suka mengeluh, maka rumah penuh keluhan. Suka mengucap syukur dan menguatkan, maka rumah penuh damai. Keluarga adalah tempat pertama kita latihan memakai lidah. Tiga hal yang bisa kita latih mulai saat ini: 1. Ganti kritik dengan permintaan. Dari perkataan, "Aku sibuk, jadi lupa" menjadi "Sayang, boleh tolong ingetin aku ya" 2. Perbanyak kata penguat untuk anak. Perkataan, "Mama bangga kamu sudah berusaha", lebih menghidupkan daripada "Nilainya kok segitu-segitu aja".3. Doa berkat sebelum tidur. Ucapkan satu kalimat berkat untuk tiap anggota keluarga. Itu seperti menyiram tanaman di rumah. Ingat, anak-anak kita tidak akan ingat seberapa rapi rumah kita. Tapi mereka akan ingat: "Di rumah ini, kata-kata apa yang paling sering ia dengar." Tuhan Yesus memberkati. DOA:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau selama ini lidahku sering melukai orang-orang yang paling aku kasihi di rumah. Ajarilah aku menjadi pembawa damai di tengah keluargaku. Berikan hikmat supaya setiap kata yang keluar dari mulutku adalah kata yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Rabu, 8 Juli 2026 - Tetap lakukan kebaikan dalam keadaan apapun 07.07.2026 4хвKencan Dengan Tuhan - Rabu, 8 Juli 2026Bacaan: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21)Renungan: Suatu kali ada seorang teman guru dari sekolah lain bercerita bahwa di grup WA orang tua murid, ada 1 orang tua yang tiba-tiba menyerang kebijakan sekolah. Kata-katanya pedas, menuduh, bahkan menyeret nama guru. Tangannya gatal mau membalas. Mau sekalian "membongkar" juga keburukan dia. Tapi ia menahan diri. Ia menarik napas, lalu mulai menjawab: "Terima kasih sudah peduli. Boleh kita bicara 4 mata? Saya rindu mendengar masukannya langsung." Anehnya, dua hari kemudian dia chat pribadi dan minta maaf. Katanya dia malu sendiri karena direspon dengan baik. Baru sadar ternyata "melawan api dengan air" itu benar-benar bisa memadamkan. Roma 12:21 ini ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma yang hidup di tengah tekanan, fitnah, dan perlakuan tidak adil. Dunia berkata: "Lawan dan sakiti orang yang menyakitimu. Tapi Tuhan bilang: "Jangan kalah terhadap kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kekebaikan." Kata "kalahkan" di sini bukan berarti kita jadi lemah. Justru butuh kekuatan besar untuk tidak membalas. Kebaikan adalah senjata yang mematahkan lingkaran kebencian. Kita hidup saat ini di era yang cepat tersulut: Di media sosial, satu komentar jahat dibalas 10 komentar lebih jahat. Di rumah, satu kata ketus dibalas dengan membentak. Di kantor/sekolah, satu gosip dibalas dengan menjatuhkan. Tuhan hari ini menguji kita: Mau jadi pemadam atau penambah api? Mungkin kita tidak bisa mengubah karakter orang yang buruk. Tapi kita bisa memilih untuk tidak jadi sama seperti dia. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, sering kali aku kalah terhadap amarah dan keinginan membalas. Hari ini ajarilah aku untuk meneladani-Mu yang membalas kejahatan dengan pengampunan. Berilah aku kekuatan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, mulai dari rumahku, sekolahku, dan lingkunganku. Pakailah hidupku menjadi alat damai-Mu. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Selasa, 7 Juli 2026 - Berani jujur dan siap dibentuk Tuhan 06.07.2026 4хвKencan Dengan Tuhan - Selasa, 7 Juli 2026Bacaan: "Manusia itu menjawab: 'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.'" (Kejadian 3:12)Renungan: Suatu kali Anna ditegur atasan karena laporan keuangan telat. Anna sebenarnya yang salah karena ia lupa mengingatkan tim. Tapi apa jawaban pertama Anna? "Pak, si Yordan yang pegang datanya. Saya sudah bilang kok, tapi dia tidak kirim-kirim." Selesai bicara Anna menjadi lega. Rasanya beban pindah ke Yordan. Malamnya barulah Anna sadar. Ia baru saja melakukan hal yang sama seperti Adam di taman Eden. Menyalahkan orang lain supaya ia tidak terlihat salah. Kejadian 3:12 ini terjadi sesaat setelah Adam dan Hawa makan buah terlarang. Tuhan datang dan bertanya. Seharusnya ini momen pertobatan. Tapi lihat jawaban Adam. Pertama, ia menyalahkan Tuhan dengan berkata, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku." Seolah Tuhan yang salah kasih pasangan. Kedua, ia menyalahkan orang lain, "Dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan. " Adam tidak berani bertanggung jawab dalam hal ini. Dosa pertama manusia bukan hanya tidak taat pada perintah Tuhan. Dosa pertama juga "tidak mau mengakui salah". Dari taman Eden sampai kantor, rumah, dan sekolah kita hari ini, polanya sama. Hati kita lebih memilih membela diri daripada jujur di hadapan Tuhan dan sesama. Di zaman sekarang kita punya 1001 cara untuk "melempar kesalahan": "Grup WA yang tidak dibaca, sinyal jelek, anak yang rewel, pasangan yang tidak mengerti, sistem yang ribet dsb." Tapi Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti jadi "Adam". Keberanian berkata "Tuhan, aku salah" adalah awal pemulihan. Di keluarga: minta maaf dulu sebelum menjelaskan. Di kantor: akui bagian kita sebelum menunjuk orang. Di hadapan Tuhan: buka hati apa adanya, jangan berdalih. Ingatlah, Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari orang yang jujur dan mau diperbaiki. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, Ampuni aku yang sering seperti Adam. Lebih cepat menyalahkan orang lain daripada mengakui kesalahanku sendiri. Amin. (Dod). -
Edisi Hari Senin, 6 JUli 2026 - Sikap respek dan menerima orang lain apa adanya 05.07.2026 5хвKencan Dengan Tuhan - Senin, 6 Juli 2026Bacaan: Lalu berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang, marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja." (2 Raja-raja 7:9)Renungan: Di zaman Israel kuno, salah satu penyakit yang paling ditakuti adalah kusta. Mengapa? Karena penyakit ini tak hanya memberikan rasa sakit secara fisik, tapi juga menyerang mental penderitanya. Bagaimana tidak? Orang kusta akan dicap sebagai orang yang kena tulah dan dikutuk Allah. Orang kusta juga diasingkan dan begitu direndahkan. Bacaan kita hari ini sungguh menarik untuk kita renungkan. Orang kusta yang selama ini diremehkan justru menjadi pahlawan Israel. Sementara rakyat Israel mengalami kelaparan hebat, orang-orang kusta inilah yang memberi tahu mereka bahwa tentara Aram sudah meninggalkan perkemahannya dan meninggalkan banyak perbekalan. Padahal bisa saja orang-orang kusta itu "balas dendam" dan membiarkan rakyat Israel kelaparan sementara mereka bisa menikmati makanan secara berlimpah. Bisa kita bayangkan betapa malunya rakyat Israel saat mengetahui bahwa orang-orang kusta inilah yang menolong mereka dengan mengabarkan berita baik itu. Orang-orang yang selama ini mereka rendahkan justru menjadi pahlawan bagi mereka. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini? Janganlah kita suka meremehkan, merendahkan, melakukan hal yang jahat, atau memusuhi seseorang. Kita tidak pernah tahu bahwa orang yang kita jahati adalah orang yang kelak kita mintai pertolongan! Bayangkan betapa malunya kita jika hal itu sampai terjadi. Lebih malu lagi kalau orang itu bersedia menolong kita! Orang yang kita remehkan, bisa saja kelak menjadi orang terhormat. Orang yang kita anggap bawahan, bisa saja menjadi atasan kita. Orang yang kita sangka buruk, bisa saja ternyata adalah orang baik yang tidak pernah memamerkan kebaikannya. Orang yang kita jahati, bisa saja orang itu membalasnya dengan berbuat baik kepada kita. Karena itu marilah kita tidak jemu-jemu berbuat baik kepada setiap orang. Singkirkan prasangka-prasangka dan penilaian lahiriah yang nyatanya sering terbukti salah itu. Kita tidak pernah tahu bahwa kita sedang menabur kebaikan yang suatu kali kelak akan kita tuai pada waktu yang tepat. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku hati seperti hati-Mu. Hati yang bisa menerima setiap orang apa adanya dan tidak menganggap rendah mereka. Amin. (Dod).
Популярний у
Цей подкаст також потрапляв у чарти подкастів у цих країнах.